Mahfud MD: Kepolisian-Kejaksaan Lebih Baik Saling Bongkar Daripada Saling Melindungi

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, memberikan ucapan selamat kepada Polri dan Kejagung yang beberapa waktu terakhir terlibat saling bongkar kasus korupsi. Ia berpendapat, bagi rakyat itu jauh lebih baik daripada keduanya saling melindungi.

“Pertama satire, satire itu, saya nyindir, sekarang saling bongkar saja daripada saling melindungi lebih baik saling bongkar, itu bagus bagi rakyat,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/07/2026).

Ia menilai, tindakan kepolisian yang sudah menetapkan mantan Jampidsus Kejagung, Febrie Andriansyah, sebagai tersangka kasus korupsi batu bara, ASABRI, dan Krakatau Steel perlu diapresiasi. Walaupun, ada analisis politik di balik langkah tersebut.

Salah satunya karena ada preseden Polri dikerjai Kejagung seperti dalam kasus Roy Suryo yang oleh Kejagung malah dikembalikan. Kasus itu disebut sudah membuat polisi dihabisi, dipermalukan, sampai Kapolri, Jend. Listyo Sigit, sendiri mengaku kecewa.

Ditambah ada seorang brigadir jenderal polisi di BGN yang ditetapkan tersangka dalam korupsi MBG. Sekarang, banyak yang menganalisis langkah penetapan tersangka kepada Febrie Andriansyah sebagai serangan balik dari Polri kepada Kejagung.

“Itu yang dikatakan pertempuran antara ketidakbenaran melawan ketidakbenaran dan kita yang ada di luar ini berdoa agar ini selesai dengan baik, di tangan negara. Saya katakan pertempuran antara nafsu setan melawan nafsu setan, dua setan tempur, umat yang baik yang kira-kira dimenangkan, itu kan kejahatan semua,” ujar Mahfud.

Bagi Mahfud, itu sesuai doa yang sangat sering disampaikan santri-santri atau kaum Nahdliyin yang bukan struktural di kampung-kampung. Itu merupakan bagian dalam shalawat asyghil berisi doa agar kita dijauhkan dari kejahatan orang-orang zalim.

“Itu doanya kaum Nahdliyin, pertemukan di antara setan itu akan berbenturan sesama setan dan kami selamat dari godaan setan itu diucapkan setiap hari di surau-surau,” kata Mahfud.

Terkait yang terjadi antara kepolisian-kejaksaan belakangan, ia menyampaikan, sebenarnya ada dua menko yang merupakan koordinator kedua institusi itu. Pertama, Menkopolkam, Djamari Chaniago dan Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra.

Mahfud menyarankan, mereka turun tangan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Bagi Mahfud, jika tidak bisa kedua menyelesaikan, setidaknya ada salah satu yang melakukan inisiatif untuk mengarahkan akan dibawa ke mana kasus-kasus tersebut.

Bahkan, ia menambahkan, selama hampir 2 tahun pemerintahan Presiden Prabowo tidak terlihat ada menko-menko yang mengkoordinir menteri-menteri di depan publik. Ini dirasa jauh berbeda dari pengalamannya sebagai Menkopolhukam periode 2019-2024.

“Sehingga, begitu selesai tidak berat bebannya dari pandangan-pandangan masyarakat, semuanya terakomodasi. Semua ini akhirnya berujung ke Presiden, kan isunya ada pertemuan di Istana untuk menyelesaikan ini, itu tidak sehat menurut saya, lalu semua ingin mencari selamat, semua ingin menghindar, enak saja,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.