Mahfud MD Kenang Cara Indah Gus Dur Memandang dan Menanggapi Humor Kritis

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (13/01/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (13/01/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, ruang untuk seseorang membuat orang lain tertawa seharusnya tetap ada. Walau mungkin pelarangan-pelarangan seperti itu terjadi tingkat kecil, tapi secara konstitusi tidak boleh ruang bebas itu ditutup.

Mahfud mengingatkan, sikap itu diambil Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ketika menanggapi humor berbumbu kritik. Baik kepada orang-orang yang mengkritisi kebijakannya saat berkuasa maupun pelawak-pelawak yang memparodikan kekurangannya.

“Saya kan pernah menulis buku Setahun Bersama Gus Dur, itu ada satu chapter sendiri yang Gus Dur bilang humor itu adalah vitamin, termasuk sindiran-sindiran, lawakan-lawakan, itu vitamin bagi kita semua,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (13/01/2026).

Bagi Mahfud, cara yang dipakai Gus Dur seperti itu membuat mereka sebagai pejabat negara malah mampu bekerja dengan enak dan bisa saling mengerti. Tapi, ia menilai, mereka bisa tetap serius dalam hal-hal yang memang diperlukan sebuah keseriusan.

Maka itu, Mahfud menyarankan, jangan terlalu mudah memojokkan seorang komika atau seorang pelawak dengan berbagai alasan. Baik memakai tudingan kalau dia menghina, dia memfitnah, dan sebagainya yang membuat kehidupan bernegara malah mencekam.

“Intinya, ya mari jadikan humor ini sebagai vitamin, tapi tentu saja tidak boleh mencerca, menjelekkan, menyudutkan. Humor, menyampaikan pikiran itu dengan cara humor karena kita tidak bisa nyampaikan langsung, tidak bisa ikut rapat kabinet, sampaikan saja di situ, kan didengar juga kalau sudah jadi humor,” ujar Mahfud.

Menurut Mahfud, humor-humor kritis malah diperlukan untuk mengetahui pandangan dari luar. Ia merasa, sebagai pejabat publik jangan mudah tersinggung dengan lawakan-lawakan yang sebenarnya merupakan keresahan yang mungkin dirasakan masyarakat.

“Banyak itu kan humor-humor politik yang sering dikira macan ternyata kucing, gitu kan sering itu, itu kan sindiran. Menurut saya perlu keterbukaan, ya sudah, orang sudah begitu, kita kerja saja kalau kita pejabat politik karena memang di negara-negara yang otoriter humor-humor bermunculan jadi kritik konstruktif sebenarnya,” kata Mahfud.

Selain dari grup-grup lawak, lanjut Mahfud, Gus Dur kerap mendapatkan masukan yang mungkin tidak sejalan dengan pandangannya dari pemerintahan sendiri. Misal, cerita Presiden Gus Dur menerima kriti dari Kapolri saat itu, Jenderal Surojo Bimantoro.

Suatu saat, ia menceritakan, ada seorang anak mantan pejabat yang menjadi buron. Kemudian, Gus Dur yang mendengar orang ini bersembunyi di Probolinggo langsung memberitahu Kapolri Bimantoro, serta Gus Dur menyuruh Bimantoro menangkapnya.

Sayang, keesokan harinya Bimantoro mengabarkan kalau si anak yang buron itu lari karena sudah mengetahui. Kemudian, Gus Dur menyarankan Bimantoro untuk membaca Al Fatihah 113 kali, yang dipertanyakan bagaimana kalau buronan membaca lebih banyak.

“Presiden yang minta, lalu Pak Bimantoro, ya Gus, oh iya Bapak Presiden tapi kalau nanti yang diburu baca 114 kali kan lolos lagi, Gus Dur ketawa tuh, tidak marah,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.