Rajinlah Mencuci Jenggot, Studi Ungkap Jenggot Pria Lebih Kotor dari Bulu Anjing

(ilustrasi) Pemain gitar dari band Dream Tehatre, John Petrucci, salah satu musisi dengan jenggot panjang. Foto: Instagram @johnpetrucciofficial

Studi menemukan jenggot pria lebih kotor dari bulu anjing karena dapat mengandung lebih banyak bakteri berbahaya. Studi dipublikasikan di European Radiology dengan melibatkan 18 pria berjenggot 18-76 tahun, serta 30 anjing dari berbagai ras.

Peneliti mengambil sampel jenggot di area wajah dan leher, serta air liur dari pria dan membandingkannya dengan bulu dan air liur anjing. Turut diambil sampel dari pemindai MRI untuk manusia dan anjing, melihat seberapa banyak kontaminasi bakteri.

Ternyata, 18 pria memiliki jumlah mikroba tinggi di jenggot, tapi hanya 23 dari 30 anjing yang memilikinya. Lebih mengejutkan, 7 dari pria membawa bakteri berbahaya bagi manusia seperti Enterococcus faecalis (usus) dan Staphylococcus aureus.

“Di antara anjing-anjing tersebut, hanya empat yang membawa jenis bakteri berbahaya tersebut. Jenggot lebih menjebak bakteri karena menciptakan lingkungan mikro. Misalnya, rambut menjebak kelembapan, sel-sel kulit, minyak, partikel makanan, keringat, dan debu. Semua ini dapat memberi makan bakteri,” tulis laporan tersebut.

Tanpa pembersihan yang tepat, bakteri mudah berkembang biak, terutama ketika rutinitas kebersihan kurang diperhatikan. Selain itu, jenggot terletak dekat dengan mulut dan hidung, tempat bakteri lebih mungkin terakumulasi dan berpindah.

Studi juga mencatat, pemindai MRI yang digunakan eksklusif oleh manusia memiliki kontaminasi lebih tinggi setelah digunakan. Ini menunjukkan bahwa bakteri manusia pada kulit, pakaian, atau jenggot berkontribusi lebih besar terhadap kontaminasi permukaan umum di rumah sakit dibandingkan anjing di lingkungan tersebut.

Kebanyakan jenggot tidak akan menyebabkan penyakit. Namun, dengan adanya bakteri tertentu membuka kemungkinan infeksi kulit, iritasi, pori-pori tersumbat, atau lebih buruk lagi jika bakteri masuk ke luka yang terbuka atau selaput lendir.

Staph aureus menyebabkan abses atau infeksi serius pada orang rentan. Enterococcus menyebabkan masalah saluran kemih atau infeksi lain jika berpindah. Mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, luka, atau kondisi dermatologis harus sangat hati-hati.

Peneliti akhirnya menyarankan untuk menjaga kebersihan jenggot yang baik bukan berarti mencukur bersih; melainkan merawatnya dengan benar. Langkah pertama dapat dilakukan dengan menggunakan sampo jenggot yang lembut atau pembersih wajah yang ringan.

“Tergantung seberapa tebal atau panjang jenggot Anda, cucilah setiap dua hari sekali atau beberapa kali seminggu. Namun, terlalu sering mencuci dapat mengeringkan kulit di bawahnya,” tulis studi tersebut.

Minyak jenggot bisa membantu menjaga kelembutan rambut, mengontrol rasa gatal dan pengelupasan, serta mengunci kelembapan. Kondisioner menjaga kulit ternutrisi. Ada pula scrub lembut atau alat pengelupas di bawah jenggot 2-3 kali seminggu untuk mengangkat sel kulit mati, mengurangi penumpukan, dan mencegah ketombe.

Jenggot yang terawat baik pun dapat dipangkas sesekali untuk menghilangkan ujung bercabang, menjaga bentuknya, dan mengurangi tempat persembunyian bakteri. Garis tepi, pipi, dan leher yang dipangkas membantu menjaga kebersihan dan gaya rambut.

Jangan lupa, bersihkan pelindung pisau cukur, gunting, sisir, sikat jenggot secara berkala agar bakteri tidak kembali. Perhatikan gaya hidup yang dijalankan. Setelah makan, berkeringat, atau di lingkungan berdebu, bilas atau cuci jenggot. Selain itu, luka atau sayatan apa pun di dekat jenggot harus dibersihkan dan dipantau. (Antara/WS05)

Temukan kami di Google News.