Mantan Jamaah Islamiyah Diajak Ikut Kontribusi Bangun Indonesia

Seminar Eks Jamaah Islamiyah
Seminar Eks Jamaah Islamiyah di Poso hari Kamis, 8 Agustus 2024.

POSO, Inisiatifnews.com – Tokoh Panglima Damai Poso, Muhammad Adnan Arsal menyampaikan rasa syukur atas pembubaran organisasi Jamaah Islamiyah (JI) oleh para petinggi organisasi ekstremis tersebut di seluruh Indonesia.

Menurut Adnan, pembubaran Jamaah Islamiyah tersebut bisa membuat publik tidak lagi melihat bahwa JI adalah kelompok teroris.

Bacaan Lainnya

“Alhamdulillah, dengan adanya deklarasi 30 Juni, diharapkan dapat menghilangkan stigma bahwa JI adalah kelompok teroris,” kata Muhammad Adnan dalam seminar bertemakan “Sinergi Wali dengan Pesantren Demi Wujudkan Pesantren yang Maju” yang diselenggarakan di Poso, Kamis (8/8).

Muhammad Adnan menyatakan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah sudah terbuka pikirannya tentang bagaimana menjaga dan merawat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami telah kembali ke pangkuan NKRI, dan mari kita bersama-sama dengan para pemangku kepentingan berkontribusi dalam membangun bangsa,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan pimpinan senior Jamaah Islamiyah sekaligus eks pimpinan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI), Bambang Sukirno alias Abu Zahra pun menyampaikan rasa syukur bisa hadir dalam kegiatan ini.

Ia berharap dengan usainya kegiatan ini, semua eks Jamaah Islamiyah bisa memaknai hidup dengan lebih bermanfaat kepada sesama, baik dalam konteks keislaman maupun kebhinnekaan.

“Saya senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi ini. Semoga hidup kita ke depan bermanfaat bagi semua umat,” kata Bambang Sukirno.

Kemudian, ia juga berharap semua mantan JI bisa menjadikan masa lalu mereka sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga, sehingga ke depan tidak lagi mereka rawat kebencian kepada orang lain karena pemahaman agama yang sempit.

“Diharapkan ke depan kita dapat melihat hal-hal positif, dan mengambil hikmah dari masa lalu untuk kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Lantas, ia juga menekankan bahwa pembubaran Jamaah Islamiyah bukan karena adanya faktor paksaan atau tekanan dari pihak lain. Melainkan karena adanya kajian yang mendalam dari internal Jamaah Islamiyah dan terbukanya wawasan keislaman dari semua jamaah.

“Jamaah Islamiyah dibentuk karena ilmu, dan dibubarkan juga karena ilmu,” sambungnya.

Hal senada juga disampaikan oleh mantan amir di Jamaah Islamiyah, Abu Rusydan alias Hamzah. Pria kelahiran Kudus 16 Agustus 1960 yang memiliki nama asli Thoqirun ini mengaku ada kesalahan paham dirinya dalam memaknai jihad fi sabilillah, hingga akhirnya ia pun belajar jihad di Afghanistan.

“Saya menjelaskan bahwa tujuan belajar di Afghanistan adalah untuk memahami jihad dengan benar, karena di sana terdapat jihad fisabilillah,” kata Abu Rusydan.

Ia pun kemudian menggali apa sebenarnya makna jihad fi sabilillah atau jihad di jalan Tuhan. Ternyata konteks dari jihad fi sabilillah ini adalah bagaimana seorang muslimin dan mukminin bisa membawa kemaslahatan bagi semua orang tanpa terkecuali. Sementara ketika jihad yang dipahami dalam konteks di Afghanistan ternyata tidak bisa diterapkan di Indonesia.

“Jihad fisabilillah yang sesungguhnya adalah yang membawa maslahat bagi banyak orang tanpa terkecuali. Sedangkan, jihad (berperang) yang dilakukan di Indonesia adalah kesalahan besar,” sambungnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Ustadz Para Wijayanto yang juga mantan amir Jamaah Islamiyah juga memberikan perspektifnya tentang Indonesia. Mantan Napi Terorisme ini mengatakan bahwa Indonesia sejatinya adalah negara yang tepat bagi tumbuh kembang agama Islam. Sebab, semua hak umat Islam di Indonesia sangat dilindungi.

“Negara Indonesia yang kita tinggali saat ini adalah negara yang adil bagi umat Islam. Kita sebagai warga Indonesia harus meyakini bahwa peraturan di negara ini telah dikaji oleh para ulama terdahulu dengan ilmu yang benar,” kata Ustadz Para Wijayanto dalam sambungan online.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri (Densus 88), yang telah mendukung kegiatan seminar semacam ini. Menurutnya, langkah semacam ini menjadi sangat penting untuk semakin memperkuat rasa cinta tanah air kepada para pengikut Jamaah Islamiyah.

“Kegiatan yang dilakukan oleh Densus 88 adalah langkah yang baik untuk seluruh bekas anggota Jamaah Islamiyah,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta yang berjumlah ratusan orang tersebut bersama-sama membacaan deklarasi yang isinya antara lain ;

Bismillahirrahmanirrahim

Kami eks anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di wilayah Poso dan sekitarnya, menyatakan:
1. Mendukung (samina waatokna) pembubaran Al-Jamaah Al-Islamiyah oleh para masyayikh kami di Bogor pada 30 Juni 2024.
2. Siap kembali ke pangkuan NKRI dan terlibat aktif dalam mengisi kemerdekaan serta menjauhkan diri dari kelompok tatharuf (ekstrem).
3. Siap mengikuti peraturan hukum yang berlaku di NKRI, serta berkomitmen dan konsisten untuk menjalankan hal-hal yang menjadi konsekuensinya.
4. Siap menyerahkan senjata (albas) kepada aparat yang berwenang jika masih ada.

Temukan kami di Google News.