Tokoh Madura, Islah Bahrawi mengatakan, hari ini kita sering terhenyak kejadian yang membuat semakin membuat perasaan tercabik-cabik. Ada anak kecil yang memilih bunuh diri karena tidak tega meminta uang ke orang tua untuk membeli alat tulis.
Lalu, ada Kapolresta yang terlibat bisnis narkoba, dan ketika daya beli masyarakat sedang lesu pemerintah malah mengimpor ratusan ribu mobil dari India. Belum lagi tentara-tentara kita yang terlibat bisnis MBG, Kopdes Merah Putih, dan lain-lain.
“Kita tahu, kita hanya berusaha seolah-olah kita tidak tahu. Padahal, kita tahu pensiunan-pensiunan tentara terlibat bisnis-bisnis perkebunan, kehutanan, sawit, pertambangan, dan seterusnya. Ini sungguh memilukan kita sebagai anak bangsa bahwa pemerintah hanya ingin mencari kenyang sendiri, membuat program yang baik bagi pemerintah, tapi tidak baik untuk negara,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (27/02/2026).
Islah menyampaikan, hak-hak dasar untuk rakyat Indonesia harus memiliki pendidikan yang baik, fasilitas pendidikan yang baik, harus dirampas untuk program-program populisme yang hanya menguntungkan pemerintah, bukan negara dan bukan bagi rakyat.
Bicara negara, ia menilai, kita kini hanya bicara pemerintah, tentang penguasa, tidak lagi bicara tentang rakyat. Menurut Islah, negara kita ini semakin rentan oleh berbagai hal-hal yang membuat kita tidak bisa lagi pura-pura optimistik.
“Karena, kita hari ini memang harus jujur katakan kita pesimis dengan keadaan ini. Bagaimana Menteri Keuangan bicara, bagaimana pihak Istana mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang hanya seolah-olah lip service. Belum kita bicara tentang Biro Pusat Statistik yang mengatakan pertumbuhan ekonomi kita sekian, tapi sebenarnya hanya artificial, hanya hasil statistik yang ingin melutupi fakta dan realita ekonomi,” ujar Islah.
Islah mengajak pemerintah membuka mata lebar-lebar, mengetuk dada agar hati melihat fakta. Ia mengingatkan Presiden Prabowo kalau dia merupakan pemimpin dari seluruh rakyat Indonesia, jangan cuma asyik masyuk dengan pemimpin-pemimpin di luar negeri.
Bagi Islah, negara harus lebih dipikirkan, jangan hanya memikirkan tentang dunia internasional dan asyik masyuk memuji Donald Trump. Ia menegaskan, itu semua tidak ada gunanya bagi masyarakat, bahkan tidak berguna bagi elektoral Prabowo sendiri.
“Rakyat hari ini dihadapkan piring-piring setengah kosong. Lebaran bisa jadi ibu-ibu sudah tidak lagi bisa membeli ayam 1 ekor utuh, tidak bisa menyajikan makanan berlimpah karena situasi ekonomi yang sudah mulai mencekik. Pak Prabowo, mohon maaf kalau kami lebih menyuarakan suara rakyat daripada suara kekuasaan yang tidak jelas juntrungannya. Trajektori negara ini semakin tidak jelas, mau dibawa ke mana kita,” kata Islah.
Belum bicara soal situasi politik, pertempuran-pertempuran kalangan elit yang pada akhirnya hanya mengorbankan rakyat. Pertempuran elit yang hanya ingin kue-kue dan pembagian kekuasaan, sedangkan rakyat hanya ingin remahan kue untuk mengisi perut.
Maka itu, Islah memohon ke Presiden Prabowo agar jangan lagi asik dengan kue-kue kekuasaan. Pikirkan rakyat yang tidak sanggup beli pena, yang semakin tidak nyaman lagi membeli beras yang pulen, yang enak dimakan, yang sudah tidak sanggup dibeli.
“Datanglah ke bawah kalau tidak percaya, kami semua merasakan bagaimana kehidupan belakangan ini yang semakin tidak nyaman. Oleh karena itu, saya minta kepada Bapak Presiden Prabowo beserta seluruh pemerintahannya jangan lagi asyik untuk mencari selamat sendiri, karena yang harus diselamatkan itu 280 juta rakyat Indonesia,” ujar Islah. (WS05)
