Komika: Biar Terasa Lebih Berbahaya, Ketika Ada Keresahan Tetaplah Berkarya

Komika, Falah Akbar, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (14/01/2026). Foto: Wahyu Suryana
Komika, Falah Akbar, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (14/01/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pelawak tunggal atau komika sedang menjadi sorotan publik usai pertunjukkan Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea menuai pro-kontra di masyarakat. Belakangan, muncul pihak-pihak yang mengatasnamakan NU dan Muhammadiyah melaporkan Pandji ke polisi.

Komika, Falah Akbar mengatakan, hari ini membuat konten-konten komedi dengan materi kritis atau banyak disebut ‘pinggir jurang’ memang sedikit membuat khawatir. Tapi, ia menyampaikan, banyak respons positif masyarakat yang berubah menjadi semangat.

“Jatuhnya malah support, awalnya kan kita agak takut-takut juga, jangan-jangan kita malah diserang atau didoxing sampai kayak tadi, ternyata malah banyak yang dukung,” kata Falah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (14/01/2026).

Bagi Falah, sebenarnya komika-komika kini sudah bisa membedakan mana materi yang tepat sebagai komersil, mana yang mungkin memang dimaksudkan sebagai idealisme. Artinya, untuk materi-materi komersil biasanya memang dibuat yang cenderung aman.

Sementara, lanjut Falah, untuk materi-materi yang tidak aman karena mengedepankan idealisme, biasanya dikeluarkan dalam forum-forum yang terbatas. Ia berpendapat, media sosial turut menyumbang menjadi wadah untuk komika menyuarakan aspirasinya.

“Ketika ada hal-hal yang kayak kita ingin banget nih diomongin, ya sudah kita kontenin saja. Jadi, ada wadahnya,” ujar Falah.

Selain itu, Falah melihat, belakangan komedi berbau kritik memang sedang mendapat peminat yang sangat tinggi di Indonesia. Bahkan, banyak program-program yang secara khusus memesankan materi komedi yang mengkritik kebijakan atau pemangku kebijakan.

Pertunjukkan bertajuk Mens Rea milik Pandji Pragiwaksono yang tampil di Netflix menjadi salah satu contohnya. Falah menilai, gaya-gaya komedi kritis seperti itu akhirnya memang dinikmati secara masif masyarakat, tidak lagi sempit seperti dulu.

Malah, Falah menekankan, komedi dengan gaya-gaya kritis seperti Pandji sedang banyak diminati masyarakat luas, bahkan menjadi semacam tren di Indonesia. Walau sedang menjadi sorotan, ia berharap, komika-komika tidak berhenti untuk bersuara.

“Buat teman-teman komika, biarpun di era sekarang yang terasa lebih berbahaya dalam berkomedi tetap saja sih kalau kita punya keresahan seputar itu, mungkin dikiranya berisiko atau bagaimana ya mungkin tinggal pintar-pintarnya kita,” kata Falah.

Artinya, Falah menambahkan, komika hari ini sudah harus pintar membungkus materi agar tidak hanya enak dan aman. Tapi, ia menegaskan, perlu dicarikan cara agar pesan-pesan yang ingin disampaikan benar-benar bisa tersampaikan dengan baik.

“Menurut saya, komedi tuh jadi cara yang unik untuk menyampaikan itu dan banyak orang Indonesia sih suka gitu ya dengan yang kayak gitu Jadi, tetap berkarya lah,” ujar Falah. (WS05)

Temukan kami di Google News.