Salah satu kesulitan yang ditemui pencari kerja, terutama Fresh Graduate, adalah membuat Curriculum Vitae (CV) menarik yang dilirik. Founder Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto menilai, pelamar perlu memahami kebutuhan perusahaan.
“Untuk Fresh Graduate, Gen Z, yang pertama adalah kita harus paham dulu orang itu, recruiter itu, akan shortlist CV yang seperti apa. Kita harus bener-bener memiliki semua persyaratan yang diminta posisi tersebut,” kata Haryo kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (09/01/2026).
Sebab, ia menjelaskan, ketika ada banyak persyaratan yang tidak dipenuhi pelamar, maka besar kemungkinan CV itu akan disingkirkan. Kemudian, perlu diperhatikan cara kita menuliskan CV karena harus benar-benar dipahami lowongan yang mau dilamar.
Haryo menyarankan, perlu diperhatikan pula kata-kata apa saja yang memang kita benar-benar menguasai dan benar-benar kita miliki. Termasuk, kemampuan apa saja, sertifikasi apa saja kalau seandainya ada, dan semua itu harus masuk ke CV kita.
“Ini hampir sama misalnya kita main search engine optimization, kita tahu persis keywordnya apa, dan keyword itu harus masuk ke dalam CV kita. Jadi, ini jangan sampai 1 CV untuk semua, kita bikin 1 melamar 1.000, jangan pernah,” ujar Haryo.
Ia menerangkan, yang paling penting itu dalam setiap CV kita harus memiliki pola pikir bahwa setiap CV ini adalah unik. Misalnya, kita memiliki latar belakang sebagai akuntansi, sedangkan kita mau melamar posisi junior akuntan di perusahaan.
“Posisinya sama-sama junior akuntan nih, tapi bisa jadi PT. A mensyaratkan apa, PT. B mencaratkan apa, dan itu tidak mungkin dilamar dengan 1 CV. Artinya, untuk PT. A CV kita khusus, untuk PT. B CV kita khusus sesuai dengan kriteria masing-masing,” kata Haryo.
Selain itu, ia menekankan, usahakan jangan pernah mengirimkan CV yang sifatnya terlalu banyak grafik. Sebab, Haryo menyampaikan, sekarang sudah banyak orang yang membuat CV sama karena sama-sama menggunakan aplikasi yang sama, seperti Canva.
Haryo menegaskan, pelamar harus memiliki pola pikir bahwa yang membaca CV kita bukan manusia. Artinya, posisikan CV kita untuk dibaca oleh mesin, Artificial Intelligence (AI), mengingat AI kerap tidak bisa menerjemahkan itu dengan baik.
“Teks saja, kalau misalnya kita mau bikin pakai Google Docs, kita bikin yang mau pakai Microsoft Word, mau pakai Libre Office atau apapun, pakai word processor saja,” ujar Haryo.
Memang, Haryo menambahkan, CV yang kita buat ketika menggunakan teks menjadi tampak membosankan. Tapi, tentu lebih baik CV yang dibuat membosankan tapi dilirik oleh perusahaan, dibandingkan CV dibuat seramai mungkin tapi malah berakhir diabaikan.
Haryo menegaskan, itu dikarenakan semua persyaratan yang ditetapkan perusahaan dimiliki oleh kita sebagai pelamar kerja. Kemudian, semua kebutuhan yang memang dibutuhkan perusahaan dimiliki oleh kita sebagai pelamar untuk menyelesaikannya.
“Terakhir, orang harus berpikir bahwa kita tidak pernah dapat pekerjaan semata-mata hanya karena CV. Kenapa? CV itu adalah pintu pembuka untuk kita mendapatkan undangan interview, undangan mewawancara, interview itulah yang menjadi penentu,” kata Haryo. (WS05)
