Yusril: Dalam Ketatanegaraan Jimly Banyak Pengaruhi Teori, Saya Banyak Pengaruhi Praktik, Mahfud Malah Dua-Duanya

Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (20/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (20/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Nama Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, dan Jimly Asshiddiqie selalu menjadi rujukan publik ketika bicara tentang hukum tata negara atau ketatanegaraan. Yusril, yang saat ini merupakan Menko Kumham Imipas menilai, mungkin itu karena mereka banyak membuahkan pandangan-pandangan dengan menulis, berceramah, maupun aktif di kampus.

“Walaupun Pak Jimly lebih banyak menulis buku, Pak Mahfud, saya lebih sedikit lagi dibanding Pak Mahfud, lebih banyak menulis artikel, tapi tulisan-tulisan singkat itu mungkin akan mencerahkan masyarakat, menjawab persoalan-persoalan aktual di bidang hukum ketatanegaraan,” kata Yusril kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (20/12/2025).

Yusril mengaku cukup sepakat dengan apa yang pernah disampaikan hakim konstitusi, Arief Hidayat, tentang ketiga pendekar hukum tata negara tersebut. Arief merasa, pandangan-pandangan yang diberikan Yusril, Mahfud, dan Jimly selama ini memang banyak mempengaruhi perkembangan hukum ketatanegaraan yang ada di Indonesia.

“Pak Arief mengatakan mungkin ada beberapa guru besar yang mungkin mempengaruhi pekembangan hukum ketatanegaraan. Kalau Pak Jimly itu karena tulisan-tulisan yang begitu banyak yang beliau lakukan dan itu memberikan sumbangan besar terhadap teori hukum ketatanegaraan, yang kedua Pak Yusril kurang sempat menulis buku, tapi pikiran-pikirannya itu banyak mempengaruhi praktek ketatanegaraan, kalau Pak Mahfud malah dua-duanya, mempengaruhi praktek, mempengaruhi teori,” ujar Yusril.

Pada kesempatan itu, Mahfud turut mengenang sosok Yusril yang dulu dikenalnya sebagai orang yang produktif dalam menulis. Jauh sebelum mereka bertatap muka, Mahfud menuturkan, sudah banyak membaca tulisan Yusril di media-media massa.

Mahfud yang masih di Yogyakarta mengaku kagum melihat ada sosok muda yang begitu produktif dalam menulis. Walau dirinya juga menulis, Mahfud mengaku saat itu masih kalah produktif dari Yusril yang bisa menulis 2-3 artikel media dalam satu pekan.

“Kok orang bisa menulis di Kompas, di Tempo, di Gatra, semua ada Pak Yusril, dan tulisannya enak. Ketika itu saya di Yogya, hebat ya Pak Yusril ini, saya juga nulis-nulis, tapi tidak sebanyak Pak Yusril. Kalau Pak Yusril hampir tiap minggu itu dua lah, kalau tidak di Kompas, besok di Tempo, kok produktif sekali ini? Jadi saya sudah mulai kenal pikirannya. Tapi, saya kenal pribadi sesudah reformasi,” kata Mahfud.

Mengenang perkenalannya dengan Mahfud, Yusril menyampaikan, dulu orang-orang saling mengenal memang tidak langsung lewat pertemuan. Tapi, lebih banyak mengenal melalui tulisan-tulisan, dari dialog-dialog, bahkan lewat ceramah-ceramah yang diberikan.

Membenarkan cerita Mahfud, Yusril mengaku zaman dulu memang bisa 2-3 kali dalam satu pekan untuk menulis artikel. Alasannya, pertama karena orang-orang yang banyak berpikir kerap merasa kesulitan kalau terlalu lama tidak mengeluarkan pikirannya.

Kedua, lanjut Yusril, waktu itu honor yang ditawarkan untuk menulis artikel memang cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, ia mengingat, dulu honor Rp 5.000 untuk satu artikel sudah cukup besar untuk menutup kebutuhan makan hariannya.

Saat itu, ia menambahkan, koran Universitas Indonesia (UI), Salemba, terbit hanya 2 kali dalam sebulan, sehingga ruangnya terbatas. Karenanya, Yusril menulis artikel untuk banyak media, termasuk Panji Masyarakat (Panjimas) dan Suara Muhammadiyah.

“Jadi, Pak Mahfud baca tulisan saya, saya baca tulisan beliau. Karena saya selalu, tadi saya mengingatkan, saya tanya beliau, Muhibbah (Majalah Pers Universitas Islam Indonesia) kan namanya, iya beliau bilang. Jadi, setiap hari kerja saya menulis, biasa zaman itu kan masih pakai mesin ketik yang manual,” ujar Yusril. (WS05)