Ketua PBNU: Pahlawan Itu Menyelamatkan Orang, Soeharto Justru Mencelakakan

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Savic Ali, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (07/11/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Savic Ali, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (07/11/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Savic Ali menilai, masuknya nama mantan presiden Soeharto sebagai salah satu tokoh yang diusulkan jadi Pahlawan Nasional membuktikan kalau sejarah memang milik pemenang. Sekaligus, membuktikan siapa sebenarnya sosok yang berkuasa hari ini.

“Ya apa yang terjadi sekarang itu membenarkan adagium bahwa sejarah itu milik pemenang, sejarah milik pemenang. Jadi, kalau Pak Harto dijadikan pahlawan ya kita tahu memang pemenangnya memang bagian dari Orde Baru,” kata Savic kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (07/11/2025).

Ia merasa, siapapun yang membaca sejarah pasti sangat paham tentang itu. Minimal, mendengar cerita-cerita dari kyai-kyai bagaimana NU yang menjadi kekuatan besar di negeri ini dimarginalisasi oleh Orde Baru. Bahkan, itu sudah dilakukan Soeharto sejak memenangkan Pemilihan Umum (Pemilu) 1971.

Dimulai peristiwa 1965-1966, kekisruhan politik sampai 1969, lalu Pemilu 1971, dan dirontokkannya semua kekuatan-kekuatan rakyat oleh kekuatan Soeharto. Termasuk, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), perwujudan Masyumi dan kekuatan politik besar selain Partai Nasional Indonesia (PNI).

Savic turut mengkritisi cara pemerintah Indonesia mendefinisikan makna Pahlawan Nasional yang sampai hari ini tidak jelas. Ia berpendapat, sosok pahlawan yang seharusnya menyelamatkan orang lain, menyingkirkan semua kepentingan pribadinya, sangat bertolak belakang dengan sosok Soeharto.

“Pahlawan adalah orang yang mempertaruhkan hidup dan kepentingan, bahkan nyawanya, untuk menyelamatkan orang lain. Jadi cocok tidak itu? Pak Harto justru mencelakakan banyak sekali orang, bukan menyelamatkan banyak orang. Dalam konteks definisi pahlawan, di situ saja menurut saya dia gugur,” ujar Savic.

Bahwa Soeharto memiliki jasa sebagai Presiden RI, ia menilai, tentu saja. Savic mengingatkan, bahkan Presiden yang hanya 5 tahun berkuasa tentu saja miliki jasa, apalagi seorang Presiden yang hampir 32 tahun berkuasa. Jasa itu sudah dihargai dengan menyebutnya sebagai Bapak Pembangunan.

Namun, ia menegaskan, untuk mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional, Soeharto bukan orang yang memenuhi kriteria. Sebab, Soeharto berkuasa dengan tangan besi, siapa yang dianggap tidak ikut skemanya, apalagi menantang kekuasaannya ‘dipukul’ dengan tangan-tangan besi Soeharto.

“Jadi, ada banyak sekali orang yang ketakutan. Ada banyak kekuatan politik yang dibekukan pada zaman Orde Baru, sehingga dia bisa berkuasa 32 tahun. Dari situ kita, saya kira, ya sudah selayaknya keberatan kalau Pak Harto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional,” kata Savic. (WS05)

Temukan kami di Google News.