Pameran Dialog Peradaban Gus Dur-Ikeda, Menko Pratikno: Dialog Lintas Perbedaan Fondasi Perdamaian Dunia

Pameran Dialog Peradaban Gus Dur dan Daisaku Ikeda yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Rabu (1/10/2025). Foto: Kemenko PMK

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa persahabatan, solidaritas, dan dialog lintas perbedaan merupakan fondasi penting bagi terciptanya perdamaian dunia.

Ini disampaikan Pratikno saat membuka Pameran Dialog Peradaban Gus Dur dan Daisaku Ikeda yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Rabu (1/10/2025).

Bacaan Lainnya

Menko PMK menyampaikan, nilai persahabatan sejati seringkali baru disadari maknanya ketika bangsa atau masyarakat menghadapi situasi krisis. Ia menekankan bahwa persahabatan bukan sekadar hubungan biasa. Melainkan sebuah kebutuhan mendasar yang dapat menjaga ketahanan sosial di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan.

“Persahabatan adalah komoditas yang paling dirindukan. Sayangnya, seringkali orang baru ingat indahnya perdamaian dan persaudaraan ketika krisis,” ujar Pratikno.

Lebih jauh, Menko PMK menyoroti bahwa era digital dengan segala kemudahannya justru menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan sosial.

Masyarakat kini hidup dalam dunia yang sangat terkoneksi, tetapi pada saat yang sama menghadapi peningkatan kasus kesepian, kegelisahan, hingga depresi. Fenomena ini, menurutnya, menjadi alarm penting bahwa pembangunan manusia tidak hanya berbicara soal fisik dan ekonomi, tetapi juga kesehatan mental dan ikatan sosial.

“Tapi justru banyak orang merasa panik, depresi, dan kesepian. Bahkan kasus bunuh diri meningkat, terutama di kalangan remaja,” jelasnya.

Dia menambahkan, perkembangan media sosial yang mestinya menjadi sarana komunikasi dan memperkuat persaudaraan justru sering disalahgunakan hingga menimbulkan konflik. Perdebatan sederhana di dunia maya kerap berubah menjadi pertengkaran, bahkan disertai ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah masyarakat.

“Debat soal nasi uduk lawan nasi pecel saja bisa jadi hate speech. Padahal persahabatan sejati tidak bisa dibangun hanya lewat dunia virtual,” katanya.

Pratikno menekankan pentingnya ruang-ruang dialog dan rumah persaudaraan yang mampu mempertemukan berbagai perbedaan untuk menghasilkan ikatan sejati yang lebih kokoh.

Dia memandang keberadaan Gusdurian bersama Soka Gakkai Indonesia dalam membangun rumah persahabatan sangat relevan dengan situasi masyarakat saat ini.

Menurutnya, upaya ini dapat menjadi sarana pembelajaran bagaimana cara membangun sahabat sejati, bukan sekadar persahabatan instan yang tumbuh singkat melalui dunia maya.

“Rumah persaudaraan dan dialog lintas agama-budaya sangat relevan sekarang. Saya titip agar rumah ini juga mengajarkan cara membangun sahabat sejati, bukan hanya persahabatan instan,” tuturnya.

Dia mengingatkan kembali pesan dari Gus Dur bahwa membangun persahabatan dan perdamaian harus dilakukan dengan hati yang tulus, tanpa kepentingan apa pun selain untuk kemanusiaan.

Dia menggambarkan nilai persahabatan sebagai sesuatu yang seharusnya ditawarkan kepada siapa saja dengan penuh keceriaan dan kebersamaan.

“Mari kita terus menjual nilai-nilai persahabatan. Kalau istilahnya toko online, persahabatan ini harus kita jual dengan gratis ongkir, garansi seumur hidup, dan bonus tawa setiap hari,” ucapnya.

Pameran Dialog Peradaban Gus Dur dan Daisaku Ikeda diselenggarakan oleh jaringan Gusdurian bekerja sama dengan Soka Gakkai Indonesia. Pameran ini menjadi wadah memperkokoh persahabatan antar perbedaan, lintas agama, budaya, dan keyakinan, yang sekaligus menegaskan kembali pentingnya fondasi perdamaian di tengah dinamika kehidupan global saat ini.

Turut hadir, Istri Presiden ke-4 Indonesia Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Soka Gakkai Terasaki Hirotsugu, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi Purnomo Yusgiantoro, Ketua Umum Soka Gakkai Indonesia Antonius Polim, dan Ketua Panitia Pameran Dialog Peradaban 2025 Inayah Wahid. FB03

Temukan kami di Google News.