Tokoh Madura, Islah Bahrawi, memuji pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB soal Palestina. Seperti pidato Bung Karno dulu, Indonesia terus mempertegas posisi dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan memberikan kedaulatan wilayah kepada Palestina.
Bahkan, Islah menilai, ada satu pernyataan menarik dalam pidato Presiden Prabowo bahwa Indonesia akan mengakui Israel bila Israel mengakui kemerdekaan Palestina. Menurut Islah, itu menjadi satu terobosan baru yang sangat layak dipertimbangkan.
“Ini memang sesuatu yang sangat luar biasa karena di situ ada bargaining politic yang sangat menjadi terobosan baru dalam menyelesaikan konflik dua negara itu,” kata Islah kepada terusterang.id yang ditayangkan di program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (25/09/2025).
Hal ini diikuti negara-negara yang selama ini dikenal sebagai aliansi Israel yang kemudian mengakui kemerdekaan Palestina seperti Inggris, Kanada, Australia, bahkan Perancis. Kini, Islah menekankan, perlu dilihat apa pengaruhnya terhadap Palestina.
Islah menilai, diplomasi dalam kemerdekaan Palestina selalu menemui jalan buntu karena selalu dikibuli negara-negara besar ini. Justru, konflik Israel-Palestina terjadi karena produk-produk kolonialisme zaman Inggris-Perancis di Timur Tengah.
Islah mempertanyakan, apakah semua ini berpengaruh atas entitas Palestina sebagai negara yang berdaulat. Islah mengingatkan, negara merdeka adalah negara dengan wilayah dan kedaulatan penuh dia menguasai teritorial tertentu yang disepakati.
“Apakah pengakuan Inggris, Perancis, Kanada, dan juga Australia ini akan berpengaruh terhadap itu? Belum tentu,” ujar Islah.
Hal ini yang harus terus kita pertanyakan. Hari ini kita seolah-olah lega dengan pengakuan kemerdekaan Palestina dari negara-negara besar dan negara-negara bekas imperialis itu. Tapi, pada kenyataannya ini tidak semudah apa yang kita bayangkan.
Apalagi, pengakuan-pengakuan ini belum berpengaruh terhadap posisi Palestina sebagai anggota PBB. Palestina sendiri dalam berbagai ajang olahraga selalu diakui untuk mengirim delegasinya, baik di tingkat Asia atau dunia seperti Olimpiade.
“Bukan hanya dalam persoalan-persoalan simbolis itu, apakah betul Palestina sebagai entitas negara berdaulat yang nantinya akan bisa melakukan kontrol kepada wilayah-wilayah yang hari ini diakui Palestina merdeka, ini yang masih kita sangsikan,” kata Islah.
Ia merasa, kita masih menganggap pengakuan dari negara-negara besar ini pengakuan yang sifatnya masih simbolistik. Sepanjang tidak ada pengakuan terhadap peningkatan peningkatan dari status Palestina sebagai anggota PBB, ini semua sekadar simbolis.
Hari ini, ia mengingatkan, Palestina masih tidak punya hak suara, hanya sebagai pengamat. Artinya, kalau ternyata Palestina masih tidak punya kedaulatan penuh wilayahnya, maka semua ini hanya retorika belaka dan bukanlah keputusan final.
Islah menilai, masih panjang perjuangan rakyat Palestina untuk bisa diakui sebagai negara merdeka. Banyak negara seperti Indonesia yang punya hubungan diplomatik dengan Palestina. Salah satu indikasinya, Duta Besar Palestina eksis di Indonesia.
“Tapi, apakah dengan demikian dengan pengakuan kemerdekaan dari negara-negara besar di negara-negara Eropa, termasuk Australia ini akan berpengaruh terhadap kedaulatan Palestina? Ini yang kemudian harus kita pertanyakan selanjutnya,” ujar Islah. (WS05)
