Gestur Donald Trump Dinilai Buka Peluang bagi Cina Jadi Mediator Israel-Iran

Presiden Cina, Xi Jinping bersama Presiden AS, Donald Trump di Mar a Lago, resor mewah milik Donald Trump di Florida, AS, (06/04/2017) lalu.
Presiden Cina, Xi Jinping bersama Presiden AS, Donald Trump di Mar a Lago, resor mewah milik Donald Trump di Florida, AS, (06/04/2017) lalu.

Intelektual, Hamid Basyaib, menyoroti keanehan-keanehan yang dibuat Presiden AS, Donald Trump, dalam menyikapi perang Israel-Iran. Salah satu yang cukup mengejutkan tidak lain ketika dia mempersilakan Cina membeli minyak dari Iran, yang praktis sejak revolusi sebenarnya tidak berhenti menerima embargo AS.

 

Bacaan Lainnya

Ia mengingatkan, sejak Revolusi Iran 1979, embargo demi embargo sudah diterapkan oleh AS dan sekutu-sekutunya, terutama dari Uni Eropa. Uniknya, Iran tetap bertahan karena mungkin mendapatkan bantuan dari negara-negara besar lain seperti Rusia, Cina, dan mereka yang memang berseberangan dengan AS.

 

“Embargo Amerika itu tidak pernah dikendorkan dan hari ini tiba-tiba dikendorkan, Cina boleh beli berapa banyak pun minyak dari Iran karena minyak dari Iran itu masih sangat vital dan produksinya besar sekali. Apakah artinya semacam undangan halus dari Amerika ke Cina untuk jadi mediator dalam perang Israel-Iran,” kata Hamid dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (29/06/2025).

 

Hamid merasa, semua masih harus menunggu karena Trump masih sulit untuk diprediksi. Namun, ia menilai, sebagai mediator Cina memang yang paling besar kemungkinannya dan paling memiliki satu kapasitas mengingat dia negara kaya, besar persenjataannya dan sejauh ini tidak dalam kondisi perang.

 

Artinya, lanjut Hamid, Cina satu kekuatan besar yang bisa secara potensial sebagai penengah dibanding negara-negara lain seperti Rusia yang tentu tidak memiliki hak moral karena sedang berperang dengan Ukraina. Serta, di luar AS yang tentu saja bias mengingat mereka merupakan sekutu abadi dari Israel.

 

“Saya kira ini gestur yang cukup menarik dan penting ketika Cina dipersilakan membeli minyak dari Iran yang sedang diembargo oleh Amerika dan sekutu-sekutu Uni Eropa-nya, kita masih harus lihat ke depan dan mudah-mudahan sekali lagi perang cepat berakhir, biar sajalah kalau ngomel-ngomel dan maki maki secara verbal, secara kata-kata, tapi jangan sampai peluru yang bicara, bom yang bicara,” ujar Hamid.

 

Hamid menambahkan, dalam perang modern seperti sekarang tidak akan ada negara yang benar-benar menang karena semua pihak pasti kalah. Sebab, kondisi sekarang berbeda dengan 100-200 tahun yang lalu ketika ada negara yang berperang dan cukup mudah menentukan mana yang menang mana yang kalah.

 

“Sekarang, dengan teknologi kayak gini dua-dua kemungkinan besar hancur, ini bisa dilihat juga semacam perang pencitraan, dan menurut saya mudah-mudahan tidak meleset, perang akan segera berakhir dalam waktu yang cukup cepat, mudah-mudahan begitu dan mudah-mudahan Anda ikut berdoa bersama saya,” kata Hamid.

 

Terkait gestur Trump, keputusannya mengebom Iran jelas inkonstitusional karena tidak berkonsultasi dulu ke Kongres, yaitu Senat dan DPR. Walau menuai banyak kecaman, sikap public cukup meredam usai Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar karena membuat mereka punya kepentingan.

 

Uniknya, Hamid menekankan, Trump sempat mengumumkan sudah terjadi gencatan senjata antara Israel-Iran, walau terbantahkan karena Israel dan Iran tetap saling berbalas serangan. Keanehan lain tentu saat Trump menyebut serangan AS tetap sasaran, tapi disebut tidak tepat oleh PM Israel, Benjamin Netanyahu.

 

Bahkan, Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbar menyebut, Iran saat ini tidak memiliki tanda-tanda memperkaya uranium untuk mendapat senjata nuklir, walau diralat usai dikecam Trump. Bagi Hamid, semua kekacauan informasi ini membuka kemungkinan serangan AS sekadar pencitraan dari Trump.

 

“Ada kemungkinan Trump ini cuma mengebom untuk keperluan pencitraan, pencitraan dalam arti dia sudah menunjukkan bahwa dia ikut campur, dia tetap di pihak Israel karena dia harus mengakomodasi atau menyenangkan para pendukung Israel di dalam negerinya sendiri di Amerika, yaitu bukan hanya orang Yahudi, tapi pendukung Trump dari kalangan yang disebut Kristen Zionist,” ujar Hamid. (*)

Temukan kami di Google News.