Pengamat politik yang merupakan akademisi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun menilai, kondisi Indonesia hari ini sebenarnya mengalami kemunduran seperti 27 tahun lalu. Bahkan, Ubed berpendapat, Indonesia mengalami situasi yang kurang lebih seperti negara-negara di abad 15 atau 16.
“Masih ingat Niccolo Machiavelli ketika menulis Il Principe, itu memang praktek kekuasaan menggunakan berbagai cara, termasuk budaya teror terjadi di masa itu, bahkan saling membunuh dan lain-lain, ketika muncul media yang kritis,” kata Ubed dalam Sate Demokrasi di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (27/03/2025).
Ia melihat, apa yang terjadi hari ini dalam konteks demokrasi di Indonesia sebenarnya sebuah akumulasi saja. Bagi Ubed, yang membedakan penguasa hari ini dan penguasa-penguasa sebelumnya hanya karena simbol-simbol penguasa sebelumnya masih tidak terlalu terang jadi bagian penting kekuasaan masa lalu.
Namun, ia menekankan, penguasa hari ini memang cukup terang memiliki kelekatan sejarah dengan era Orde Baru. Menurut Ubed, pola-pola intimidasi yang terjadi hari ini sebenarnya terbaca seperti pola era Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto, termasuk lewat beragam bentuk teror, ancaman dan lainnya.
“Ketika saya mahasiswa, asrama sering ditelfon orang-orang aneh dengan bahasa kasar, itu jelang 97-98, kita sudah mulai turun ke jalan dan hampir semua kelompok kritis di masa itu memang kena teror. Apalagi, Gus Dur, kita tonton bersama tentang peristiwa itu. Jadi, kemunduran ini, kita set back ke era Soeharto,” ujar Ubed.
Tokoh Madura, Islah Bahrawi menuturkan, dalam buku (Francis) Fukuyama sebenarnya sudah dijelaskan dua tipikal negara demokrasi. Pertama, ada first wave democracy yang biasanya masih ada di negara-negara teokratis seperti Arab Saudi, Irak era Saddam Hussein, Libya era Muammar Khadafi dan lain-lain.
Kemudian, lanjut Islah, ada second wave of democracy dan third wave of democracy yang diterangkan Fukuyama. Ia berpendapat, Indonesia sendiri sebenarnya sudah sempat masuk ke third wave democracy, dan terbukti ketika seorang Joko Widodo yang bukan siapa-siapa mampu menduduki posisi Presiden RI.
“Jokowi yang bukan orang aristokrat, bukan keturunan ningrat tiba-tiba jadi presiden. Tapi, di tangan Pak Jokowi juga ketika itu kalau menurut teori Fukuyama, kita sebenarnya semakin mundur ke second wave, ini sama kelas kita seperti negara-negara di Afrika, negara-negara yang masih represif atau masih koersif,” kata Islah.
Islah menekankan, Fukuyama sudah menjelaskan cukup rinci dalam buku The Origins of Political Order kalau negara-negara seperti itu memang melaksanakan demokrasi. Tapi, tindakan-tindakan intimidasi masih berlaku, dan penunjukkan pejabat-pejabat di lembaga-lembaga sipil tidak berbasis meritokrasi.
Islah memberikan contoh, negara-negara seperti Nigeria atau Sudan sebenarnya menerapkan sistem demokrasi. Tapi, petinggi-petinggi mereka memanfaatkan sistem demokrasi itu untuk melanggengkan kekuasaan dan Indonesia dirasa sudah semakin terang mengalami kemunduran sampai fase tersebut.
“Nah, kita mundur pada fase itu, yang seharusnya tingkatannya sudah mapan, third wave of democracy, tapi kita sekarang menjadi second wave of democracy. Nah, munculnya intimidasi ke Tempo ini adalah contoh bahwa kita mengalami kemunduran fase demokrasi itu,” ujar Islah. (*)
