Peran Jurnalis Diharapkan Beri Edukasi Masyarakat dalam Berselancar di Medsos

literasi digital
Ilustrasi.
JJP
Diskusi jurnalis Jakarta Pusat.

Kontributor Inisiatifnews.com, Ahmad Kelrey juga menuturkan, bahwa banyak masyarakat yang hanya mengikuti omongan di media sosial, sayangnya hal-hal yang bersifat positif tak sedikit yang mereka abaikan.

“Ada beberapa sebenarnya yang terbersit di pikiran saya, apakah harus ada inovasi untuk perkembangan sekarang yang terkait berita di Republik ini,” sebutnya.

Bacaan Lainnya

Pada kesempatan yang sama, Jurnalis lain yakni Muhammad Idris pun mengatakan, bahwa hoaks banyak menyebar karena kecepatan update berita tidak diimbangi dengan literasi yang baik oleh masyarakat.

“Karena orang Indonesia kan kagetan ya, khususnya karakter di Indonesia. Perkembangan teknologi berkembang tidak diimbangi literasi dan kualitas manusianya. Kurang edukasi juga menjadi salah satu faktor orang termakan hoaks. Orang gampang megang sosial media, sementara berita yang bertebaran dan dibuat jurnalis itu kurang kenceng. Jadi galakkan lah teman-teman ini untuk berita-berita akurat sehingga masyarakat tercerdaskan,” paparnya.

Selain itu, ia juga berharap agar para insan jurnalis pun memang banyak memberikan informasi yang akurat. Kendati demikian, informasi-informasi faktual yang mereka terbitkan masih banyak kalah dengan informasi yang muncul di sosial media, termasuk konten informasi yang sesat alias hoaks.

“Jadi kita harus kembangkan informasi faktual dan netral agar konten hoaks tereduksi dengan sendirinya. Jangan beri informasi yang hanya melegakan ego masyarakat. Karena banyak masyarakat yang inginnya dan suka dengan info yang melegakan egonya sendiri sementara bila info hoaks itu diluruskan, mereka cenderung menolak,” tambahnya.

Wakil Ketua JJP Kanugrahan menilai masyarakat lebih percaya informasi di medsos. Contohnya soal Covid-19 yang mana mereka banyak tidak percaya bahwa virus Covid-19 itu memang ada. Bagi mereka khususnya yang memang tidak suka dengan pemerintahan saat ini, cenderung mereka berpikir bahwa Covid-19 hanya bentuk akal-akalan pemerintah saja.

“Ini miris sekali. Masyarakat percaya info di media sosial, bukan di media mainstream atau di media yang ditulis jurnalis. Kita sebagai jurnalis juga jangan ambil sumber di medsos. Karena kita sebagai agen yang meluruskan berita di medsos,” kata pria yang karib disapa Kano itu.

Ia menyarankan agar jurnalis harus memberi info akurat, bukan malah terjebak dengan informasi-informasi hoaks yang sedang viral. Sebagai jurnalis yang berintegritas, seharusnya check and recheck, klarifikasi ke TKP untuk meluruskan informasi yang salah adalah sesuatu yang mutlak dilakukan.

“Itu wajib kita tanamkan sebagai jurnalis. Berikan berita akurat untuk masyarakat. Kita sebagai jurnalis jangan mudah percaya, minimal berikan edukasi ke orang-orang terdekat kita, seperti keluarga di rumah,” tutur Kano.

Terakhir, jurnalis TribunRakyat, Ibas mengemukakan bahwa pertempuran tulisan atau narasi negatif yang sudah masuk ke jejak digital saat ini sudah meresahkan masyarakat. Dan ini pun seperti sudah menjadi fenomena dan berdampak negatif kepada publik.

“Kita bisa mengambil dari beberapa hal pelajaran atas fenomena tersebut dan mengambil relavasi agar memberikan solusi dan untuk mereduksi dari berita-berita hoaks dengan salah satunya memberikan edukasi pada masyarakat,” ujar Ibas.

Dan ia juga berharap agar para jurnalis bisa ikut bergerak, karena mereduksi hoaks di kalangan masyarakat adalah kerja-kerja kolaboratif semua komponen anak bangsa tanpa terkecuali.

“Mungkin perlu sinergisitas dengan instansi maupun kolaborasi dengan semua pihak, untuk mereduksi peredaran hoaks, ujaran kebencian dan narasi negatif. Jadi tinggal implementasinya saja,” pungkasnya. [REL]

Temukan kami di Google News.