Adi Prayitno Khawatirkan Dampak Agresifitas Verbal di Pemilu 2019

Inisiatifnews – Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno mengaku cukup mengkhawatirkan adanya agresifitas verbal di kalangan masyarakat khususnya di momentum Pemilu 2019.

Salah satu wujud agresifitas verbal yang disampaikan oleh Adi adalah mudahnya orang memberikan label “Kafir” dan “Dungu” terhadap orang lain.

Bacaan Lainnya

“Agresifitas verbal juga semakin menjadi dengan sebut kofar-kafir, itu termasuk kata-kata dungu,” kata Adi di Jakarta Pusat, Rabu (13/3/2019).

Agresifitas verbal yang suka dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam melakukan labelisasi perbedaan tersebut menurut Adi lantaran tidak adanya klausul yang tepat untuk mendefinisikan, apakah kata-kata semacam itu masuk dalam kategori penghinaan dan pelanggaran pemilu atau tidak.

“Jadi banyak agresifitas verbal tidak selesai karena kita tidak punya klausul untuk mendefinisikan apakah satu hal itu pelanggaran pemilu atau tidak,” terangnya.

Kemudian masalah agresifitas verbal ini menurut Adi akan hanya menjadi cukup biasa ketika dipakai oleh kalangan elite, karena lebih banyak semata untuk kepentingan akrobatik narasi saja di hadapan media.

“Pertarungan politik dan sentimen persaingan kalau di kalangan elite bisa dibahas sambil ngopi bareng, dan mereka heboh-heboh itu hanya untuk kebutuhan show di media karena mereka dapat sesuatu di situ,” ujar Adi.

Sayangnya, narasi-narasi semacam itu akan sangat berbeda dan bahkan berdampak sangat buruk di kalangan masyarakat arus bawah.

Hal ini menurut Adi lantaran di kalangan masyarakat arus bawah, politik lebih tidak hanya dimaknai sebagai pesta demokrasi semata melainkan pertarungan harga diri yang bisa berimplikasi sangat buruk ketika salah dalam pengelolaanya.

“Tapi di kalangan masyarakat bawah politik itu soal pertarungan harga diri. Bahkan di kampung saya ada 1 baliho atau banner saja dirusak itu pelakunya bisa dicari sampai berbulan-bulan, bahkan bisa sampai dibawa dendam hidup dan mati,” paparnya.

Selain itu, Adi juga mengingatkan potensi konflik yang lebih besar lagi di Pemilu 2019, yakni di mana momentum kampanye terbuka digelar.

“Sebentar lagi kita akan masuk jenis kampanye yang paling ditinggu yakni kampanye terbuka. Saya khawatir kok ada clash dan benturan fisik,” pungkasnya.

“Saya melihat seperti masyarakat sekarang sedang menunggu momentum kapan mereka bisa melakukan tawuran bukan hanya verbal saja tapi fisik,” imbuh Adi.

Maka dari itu, Adi juga mengimbau kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tidak hanya berada di zona aman dimana hanya mengawasi hal-hal yang teknis saja, bahkan persoalan penggunaan verbal pun harus diperhatikan, karena persoalan agresifitas verbal ini yang menjadi momok paling krusial dan setiap kali ada pemilihan umum.

“Bawaslu jangan seperti keledai yang jatuh di kubangan yang sama, seperti mengulang kesalahan dari bawaslu sebelum-sebelumnya,” tutup Adi.

[IBN]

Temukan kami di Google News.