Inisiatifnews – Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kali ini nampaknya tegang betul. Muncul istilah-istilah serem seperti perang hingga adu munajat atau doa antara pendukung dan tim sukses pasangan capres-cawapres.
Salah satunya doa Neno Warisman, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga yang dibacakan saat acara Munajat 212 di Monas, Kamis pekan lalu. “Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan tak menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu.” Inilah potongan doa Neno yang dibacakan sembari terisak dan ramai diperbincangkan khalayak belakangan ini.
Menghadapi Pilpres yang agak tegang ini, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengajak masyarakat meniru Gus Dur. Kata Gus Mus, pemilu ini hal yang ringan dan tak perlu dibesar-besarkan, jangan dibikin repot apalagi sampai kerengan satu dengan yang lain.
Pesta demokrasi semestinya tidak memunculkan permusuhan apalagi sampai mengajak Allah ikutan berpolitik praktis. “Takut kalah sampai mengancam Allah itu artinya tidak pernah membaca Alquran. Allahu akbar kok dinggo tukaran (untuk berantem),” begitu kata Gus Mus saat haul Gus Dur di Solo belum lama ini.
Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Persatuan Nasional era Presiden Gus Dur, Muhammad AS. Hikam dalam laman Facebooknya mengulas adab berdoa kepada Tuhan.
Sifat takabur (arogan, sombong) bukan hanya ditujukan terhadap sesama manusia, tetapi bisa juga ditujukan terhadap Tuhan. Pemilik sikap takabur menganggap dan mengklaim, dirinya sudah demikian hebat sehingga Tuhan pun dianggap semacam “suruhan” yang kalau perlu diancam-ancam.
Maka ketika dia dalam posisi berdoa pun, dia mengingkari fakta bahwa posisi dirinya di hadapan Tuhan adalah pihak yang asor. Bukan sebaliknya. Maka itu, walaupun disembunyikan dengan gaya yang sok sedih dan mengharu biru, “doa” si manusia takabbur juga bukan meminta dan memohon, tetapi memaksa. Seakan-akan kalau Tuhan tidak memenuhi doanya, maka Dia akan kehilangan pengikut dan penyembah-Nya!
Padahal, Tuhan tak memerlukan persembahan, sesembahan, dan pengikut. Seandainya seisi langit dan jagad raya ini tidak patuh kepada-Nya pun, Dia tetap berkuasa atas semuanya dan tak memerlukan dukungan mereka.
Karena pada hakekatnya, manusialah yang memerlukan pertolongan-Nya. Manusialah yang perlu bantuan-Nya. Manusialah yang perlu petunjuk dan hidayah-Nya. Itulah sebabnya ada doa dan munajat, sebagai ekspressi pengakuan lemahnya manusia di hadapan Tuhan.
Doa yang bernuansa “mengancam” dan “memaksa” Tuhan adalah kesombongan atawa ketakaburan. Ia muncul karena nafsu keserakahan dan menang-menangan. Perlu dipertanyakan, apakah manusia takabur tersebut, walaupun mengaku beragama, apakah beriman dan paham tentang sifat-sifat Tuhan? Ketakaburan membuat manusia menjadi lupa daratan!
[FMB]
