Dimulai Dari Merak, Jelajah Kebangsaan Ingin Merajut Kebhinnekaan

Mahfud MD
Prof. Mahfud MD bersama sejumlah tokoh berada di dalam kereta saat Jelajah Kebangsaan bersama PT KAI.

Inisiatifnews – Gerakan Suluh Kebangsaan menggelar kegiatan Jelajah Kebangsaan 2019. Gerakan yang dimotori oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD ini bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Jelajah Kebangsaan ini akan berlangsung di beberapa stasiun kereta yang rencananya akan disinggahi dari 18 hingga 22 Februari. Berawal dari Merak, Banten hingga berakhir di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi, Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Pagi tadi, Senin (18/02/2019), Jelajah Kebangsaan memulai tour-nya di Stasiun Merak. Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud MD mengungkapkan, gerakan Suluh Kebangsaan ini sudah dilakukannya sejak Januari 2019. “Hari ini kami dari Gerakan Suluh Kebangsaan memulai perjalanan lima hari dengan kereta api dalam acara Jelajah Kebangsaan on the train. Berangkat dari Stasiun Merak dan akan berakhir di Banyuwangi. Di stasiun-stasiun KA, kami akan berdialog dengan masyarakat dan tokoh-tokoh setempat dalam menjaga NKRI,” kata Mahfud memulai tour-nya di Stasiun Merak, Banten.

Tujuan utamanya adalah merajut kembali dan merawat kebhinnekaan masyarakat Indonesia. Kata Mahfud, Indonesia indah dan kaya dengan 17.504 pulau, 1360 suku, 726 bahasa daerah, beragam agama dan budaya. Sumber daya alam seperti hutan, batubara, emas, laut, serta 265 juta penduduk.

“Luar biasa. Kita bersatu dalam kebesaran, keberagaman dan kekayaan SDA di rumah NKRI. Kita harus mengingat lagi, dulu Indonesia diproklamasikan dengan semangat kebersamaan, kebersatuan di antara ikatan primordial yang berbeda,” kata Mahfud.

Oleh karenanya, masyarakat Indonesia harus memelihara kebhinnekaan dan tidak mudah terpecah oleh isu apapun. Termasuk menjaga kebersatuan di tengah kondisi dan situasi politik seperti sekarang ini.

“Jangan hanya karena pemilu, memilih pemimpin dan wakil lima tahun, kita terpecah. Dengan banyak ikatan primordial itu, kita bersatu dan dipilih kebersamaan lewat demokrasi. Artinya pemilu itu untuk memilih pemimpin bersama, bukan yang menang ribut dengan yang kalah ataupun sebaliknya,” urai anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

Nantinya, di setiap stasiun yang direncanakan disinggahi, akan ada dialog kebangsaan. Stasiun yang akan disinggahi antara lain Merak, Gambir, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Jombang, Surabaya, dan Banyuwangi.

Sejumlah tokoh akan menjadi narasumber dalam dialog kebangsaan di setiap stasiun. Selain Mahfud MD, putri pertama Gus Dur yakni Alissa Wahid, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Agamawan Romo Benny Susetyo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, hingga Kiai dan ulama Khos Nahdlatul Ulama Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

Eks Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur ini berharap, Jelajah Kebangsaan Gerakan Suluh Kebangsaan ini berjalan lancar dan menyumbang dampak positif untuk menjaga persatuan antar anak bangsa. “Tujuan Suluh Kebangsaan bukan kampanye besar-besaran. Suluh itu seperti lampu kecil yang menerangi dalam kegelapan,” harap Mahfud.

Apa Sih Gerakan Suluh Kebangsaan?

Beberapa pekan ini, publik kerap mendengar Gerakan Suluh Kebangsaan di sejumlah media. Nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Dr. Mahfud MD selalu hadir di setiap acara dengan nama tersebut.

Gerakan Suluh Kebangsaan yang dikemas dalam diskusi kreatif dan interaktif ini secara perdana berlangsung di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Januari awal tahun 2019. Gerakan Suluh Kebangsaan kemudian menyebar di beberapa kota di antaranya Surabaya, Madura, Medan, Lombok dan daerah lainnya.

Awalnya, gerakan ini digagas Prof. Dr. Mahfud MD bersama putri Presiden Gus Dur Alissa Wahid, Romo Benny Susetyo, dan Ajar Budi Kuncoro. Mereka prihatin dengan maraknya potensi perpecahan dari berbagai kelompok bangsa akhir-akhir ini.

Gagasan gerakan ini mendapatkan dukungan sangat besar dari para tokoh seperti Buya Syafi’i Maarif, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Ibu Nyai Shinta Nuriyah, Sri Sultan HB X, Romo Magnis Suseno, Prof. Komarudin Hidayat, Prof. John Titaley, Budayawan Garin Nugroho, Wartawan Senior Rikard Bagun, aktivis gerakan perempuan Siti Ruhaini Dzuhayatin dan tokoh-tokoh lainnya. Mahfud MD pun, didapuk menjadi Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan.

Jelajah Kebangsaan Bersama PT KAI

Berbagai macam kegiatan dilakukan dalam Gerakan Suluh Kebangsaan ini, seperti sarasehan, dialog kebangsaan, hingga Jelajah Kebangsaan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pada setiap acara, ratusan elemen masyarakat dari mulai mahasiswa, tokoh adat dan masyarakat, seniman, tokoh lintas agama, hingga sastrawan dan budayawan.

Harapannya, lewat acar-acara Jelajah Kebangsaan Gerakan Suluh Kebangsaan yang digelar akan memperkuat rasa nasionalisme, memperkokoh persatuan dan kesatuan. Mulanya, gerakan ini muncul karena mencium gejala potensi perpecahan bangsa. Gerakan ini lahir dari keprihatinan akan gejala perpecahan dengan mendompleng isu-isu sensitif seperti agama dan paham politik. Terjadi saling serang menyerang, munculnya politik identitas yang mengkhawatirkan seperti identitas keagamaan dan lainnya.

Jelajah Kebangsaan ini akan berlangsung di beberapa stasiun kereta yang rencananya akan disinggahi dari 18 hingga 22 Februari. Berawal dari Merak, Banten hingga berakhir di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi, Jawa Timur. Stasiun yang akan disinggahi antara lain Merak, Gambir, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Jombang, Surabaya, dan Banyuwangi.

Nantinya, di setiap stasiun yang direncanakan disinggahi, akan ada dialog kebangsaan yang menghadirkan sejumkah tokoh bangsa lintas generasi, disiplin serta lintas agama. (FMB)

Temukan kami di Google News.