Pengamat Intelijen Tegaskan Terorisme Bukan Prestasi Jokowi, Tapi…

nuruddin lazuardi
Pengamat intelijen, Nuruddin Lazuardi saat menyampaikan perspektifnya terkait dengan persoalan terorisme di Indonesia. [foto : inisiatifnews.com]

Inisiatifnews – Pengamat intelijen, Nuruddin Lazuardi menegaskan bahwa pemberantasan terorisme di Indonesia bukanlah sebuah prestasi dari Pemerintahan Joko Widodo.

“Pemberantasan terorisme bukan prestasi tapi kewajiban karena itu kejahatan kemanusiaan. Kalau kita mau bicara janji Jokowi soal terorisme, menurut saya hampir tidak ada karena itu masuk ke penegakan hukum,” kata Nuruddin dalam sebuah diskusi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (25/1/2019).

Bacaan Lainnya

Hanya saja terkait dengan penanganan terorisme, Nuruddin menilai bahwa aparat keamanan dan intelijen di Indonesia sudah menunjukkan kemajuannya.

“Pak Jokowi tidak memberikan janji ini, tapi embrio-embrio dan sel-sel terorisme mulai menurun. Lihat saja aksi mereka ada enggak, ada nilai bargaining atau tidak. Selama itu menurun, maka intelijen berhasil,” ujarnya.

Nuruddin juga menyampaikan bahwa untuk mengukur peningkatan penanggulangan terorisme bisa diukur dari tingkat eksistensi tindakan para teroris saat melancarkan aksinya, mulai dari pola yang dilakukan dalam penyerangan maupun alat yang digunakan untuk melancarkan aksinya.

“Serangan terorisme makin besar atau tidak, itu aja ukurannya. Korbannya seberapa banyak, dampak ketakutannya seberapa besar. Itu aja. Bandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Itu aja ukurannya,” terangnya.

Jika melihat dari ukuran yang disampaikannya itu, Nuruddin menilai pola serangan dan alat yang digunakan teroris dalam melakukan serangannya sudah semakin menurun. Salah satu adalah bom yang digunakan tidak sedahsyat bom yang diledakkan di beberapa tahun yang lalu.

“Jejaringnya bandingkan dengan jejaring-jejaring dulu. Saya tahun 2000 saat terjadi (bom) di malam natal, ada puluhan titik di Jabodetabek saja. Satu ledakan setidaknya 3 nyawa. Bayangkan dan terus terulang lagi sampai 2008, bom JW Marriot, hanya tas koper kecil saja bisa meluluhlantakan gedung dan membunuh tamu di sana,” terang Nuruddin.

Sementara jika dibandingkan 4 tahun terakhir ini, Nurruddin menilai eksistensi dan pola serangan teroris tidak sedahsyat beberapa tahun sebelumnya.

“Jadi bom-bom sekarang ini yang low explosive. Dan pelakunya pakai-pakai cara primitif misal pakai pisau,” lanjutnya.

Sekali lagi, Nuruddin menyampaikan bahwa kondisi tersebut merupakan salah satu bukti bahwa penanggulangan terorisme di Indonesia sudah mendapatkan kemajuan.

“Intelijen tidak melihat bom itu dibuat dan meledak seperti apa dan dimana, tapu intelijen lihat supply dan peredaran itu seolah mati dan hilang, pelaku terorisme sulit mengakses. Kalau dulu bahan dan cara membuat bom mudah sekali didapat,” tutur Nuruddin. [ibn]